Home > Motivasi > Memulihkan Rasa Percaya Diri

Memulihkan Rasa Percaya Diri

Mula-mula mari kita pikirkan hal paling buruk apakah yang bisa terjadi dalam hidup kita se­ba­gai seorang manusia? Apakah hal yang paling buruk itu adalah ketika kita kehilangan kekasih kita? Ataukah hal yang paling buruk itu adalah ketika kita kehilangan pekerjaan kita? Ataukah ketika kita mengalami musibah?

Bagi saya, sebenarnya hal yang paling buruk yang bisa terjadi dalam kehidupan seorang manusia bukannya yang datang dari luar dan kemudian masuk ke dalam diri manusia. Perkara yang paling bisa menghancurkan manusia bukan sesuatu yang datang dari luar dan kemudian menyergap hidupnya. Entah itu kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasih, atau kehilangan pendapatan. Bukan itu, tetapi hal yang paling buruk yang bisa terjadi di dalam kehidupan seseorang adalah ketika orang tersebut kehilangan kepercayaan diri terhadap dirinya sendiri. Istilah lainnya, meminjam bahasa gaul remaja, tidak lagi pede.

Orang yang putus asa berarti ia tidak lagi bisa memercayai dirinya sendiri. Hal ini merupakan hal yang paling berbahaya karena keputusasaan datang dari dalam hati seseorang. Sesuatu yang datangnya dari luar, sejalan dengan waktu dapat disingkirkan, tetapi apa yang terjadi di dalam hidup manusia, hanya orang yang bersangkutan itulah yang bisa menyelesaikannya. Berapa banyak orang yang putus asa, yang kehilangan kepedean terhadap dirinya sendiri, dan kemudian merasakan letih lesu, lunglai sehingga merasa tak ada lagi yang dapat dilakukan selain mengakhiri hidupnya. Menurut saya, inilah masalah yang paling besar ketika kita tidak bisa lagi melihat bahwa di dalam hidup kita ada sesuatu yang masih bernilai.

Kita akan membahas tentang pergumulan Gideon ketika ia berhadapan dengan Tuhan. Gideon dan bangsanya adalah orang-orang yang sudah putus asa. Mereka sudah kalah. Mereka sadar karena dosa mereka sendiri, mereka dihukum oleh Tuhan. Mereka juga sadar orang Median lebih besar dan lebih kuat. Orang Israel berada pada posisi yang terpojok. Namun, sebenarnya yang lebih berbahaya dari sekadar ancaman orang Median adalah kenyataan bahwa mereka kehilangan kepercayaan diri mereka sebagai sebuah bangsa.

Ketika malaikat Tuhan datang, Gideon sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur. Mengirik gandum adalah pekerjaan yang dahulunya biasa dilakukan di udara terbuka. Orang Israel melakukannya di tempat pemerasan anggur yang tersembunyi. Hal ini berarti mereka memang ketakutan setengah mati. Mereka memang tidak punya pilihan yang lain. Mereka memang tidak bisa ke mana-mana lagi selain harus menerima kenyataan bahwa mereka harus menghadapi bangsa yang lebih kuat. Akan tetapi, mereka juga harus mengakui bahwa di dalam diri mereka sudah tidak ada lagi kekuatan, sudah tidak ada keberanian, dan sudah tidak ada lagi semangat untuk melawan. Orang yang jatuh pada keputusasaan yang paling dalam, ia pasti akan kehilangan semangat hidupnya. Akan tetapi, orang yang masih bisa menemukan satu atau dua keindahan di dalam hidupnya, ia akan menjadi orang yang bisa bertahan di dalam tekanan hidup yang seberat apa pun.

Semangat bertahan itulah yang tidak dipunyai Gideon. Gideon hanya melihat hidup yang be­gi­tu berat, dirinya yang ternyata bukan apa-apa. Ia penuh dengan ketakutan, kecemasan, keputusasaan sam­pai saat Tuhan menjumpai dan menyapanya. Tuhan berkata, “Tuhan menyertai engkau, ya pah­lawan yang gagah berani.” Gideon tidak menjawab sapaan Tuhan itu dan yang keluar malahan keluhan, “Ah Tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?”

Lihat, Gideon tidak mempunyai semangat. Ia tidak memiliki tekad untuk hidup, yang keluar adalah keluhan, keluhan, dan keluhan. Ketika orang sudah kehilangan harapan, sudah tidak lagi dapat memercayai dirinya sendiri dan sudah kehilangan kekuatannya, maka satu-satunya hal yang sering ia lakukan adalah mengeluh. Jika kita sudah mulai banyak mengeluh, bisa jadi itu indikasi bahwa kita sudah mulai letih lesu dan berbeban sehingga kita tidak bisa melakukan apa-apa selain mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Gideon dijumpai Tuhan dalam keputusaasaan yang hebat. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa selain keluhan, “Kalau memang Tuhan menyertai kami, mengapa keadaannya bisa begini? Saya ini bisa apa? Saya ini paling kecil di antara seluruh kaum keluargaku. Saya ini tidak bisa apa-apa.” Namun, ada sesuatu yang unik di dalam ucapan Tuhan. Memang Gideon lemah, letih, dan dalam ketakutan, serta kehilangan kepercayaan bahkan kepada dirinya sendiri, tetapi Tuhan yang Mahatahu itu berkata, “Tuhan menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Perkataan Tuhan itu bisa memiliki dua arti. Jika dalam suasana perang ada orang yang melarikan diri karena ketakutan dan kemudian ia disapa sebagai pahlawan yang gagah berani, maka itu bisa dianggap sebagai suatu sindiran. Akan tetapi, saya rasa Tuhan tidak sedang menyindir Gideon. Tuhan di dalam kemahakuasaan-Nya dan di dalam kemahatahuan-Nya adalah Tuhan yang melihat bahwa di tengah keputusasaan Gideon terhadap hidupnya dan di tengah kegagalan Gideon, bahkan untuk memercayai dirinya sendiri, Tuhan masih memercayai dia. Tuhan melihat jauh ke depan bahwa kelak Gideon yang sekarang penuh dengan keputusasaan dan penuh dengan ketakutan serta kecemasan ini akan menjadi pahlawan yang gagah berani.

Ketika Tuhan menyentuh dan menjamah hidup seseorang yang sedang dalam keputusasaan yang paling dalam, maka satu hal yang Ia kerjakan adalah memeriksa hidup orang itu. Tuhan akan mencari hal yang paling indah dan yang paling baik, yang masih bisa Ia temukan di dalam hidup orang itu. Selanjutnya, Tuhan akan bekerja lewat hal yang terindah itu sehingga orang ini menjadi orang yang cakap dan tangguh.

Ketika kita kehilangan rasa percaya diri dan menyesali nasib dan kesalahan, kemudian kita mulai menjadi putus asa dan depresi, maka pada saat seperti inilah kita harus membiarkan Tuhan mengubah hidup kita. Kita harus membiarkan Ia menjamah hidup kita. Ia akan menunjukkan bagian-bagian dari hidup kita yang bisa dipakai-Nya untuk membangkitkan kita. Tuhan memahami bahwa ketika manusia putus asa dan kehilangan kepercayaan diri, maka ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipercayainya. Tidak ada jalan lain, selain Tuhan menjamah orang itu dan membukakan matanya untuk melihat bahwa mungkin masih ada satu atau dua hal baik dan indah di mata Tuhan. Melalui satu dan dua hal itu, Tuhan akan membentuknya menjadi umat yang tangguh.

Kadang kala dalam kondisi yang putus asa, depresi, ketakutan, kecemasan, dan kehilangan kepercayan diri, kita justru sering kali lari dari Tuhan. Kita khawatir jika kita datang kepada Tuhan, Ia tidak menerima kita. Kita berpikir sudah cukuplah caci maki orang kepada kita dan sudah cukuplah kesalahan ditimpakan kepada kita. Kita menyalahkan diri sendiri. Kita pikir, kalau kita datang kepada Tuhan, Ia akan melakukan hal yang sama seperti orang lain. Ia akan menunjukkan dosa-dosa dan kesalahan kita? Kita bertanya-tanya, tidakkah Ia akan menghakimi kita?

Itulah yang membuat kita akhirnya tenggelam dalam keputusaasaan yang paling dalam karena kita merasa kita akan gagal. Kita merasa Tuhan juga melihat dan menjatuhkan penghukuman yang sama. Padahal tidak. Tuhan tidak pernah melakukan itu. Bagian Alkitab yang lain mengatakan bahwa hati yang hancur dan penuh penyesalan itu adalah hati yang justru akan dijamah Tuhan dan justru merupakan hati yang akan dipulihkan oleh Tuhan. Namun, entah dari mana datangnya ide dan keyakinan bahwa ketika kita gagal, kalah, atau salah, maka itu berarti juga Tuhan tidak mau menerima kita. Tidak! Tuhan adalah Ia yang melihat hal yang paling indah di tengah kehancuran yang sedalam apa pun. Tuhan punya mata yang sangat tajam sehingga ia bisa menemukan satu atau dua titik keindahan di dalam kehancuran hidup kita.

Seorang rekan yang berasal dari sebuah latar belakang yang buruk dan terbuang dari keluarga menuturkan kepada saya bahwa Tuhan itu baginya sama seperti seorang pemulung. Dahulu ketika ia gagal, keluarga membuangnya. Dulu hidupnya hancur, ia dibuang oleh orang lain, dan dianggap tidak berharga dan harus dijauhi. Ia bahkan tidak bisa memercayai dirinya sendiri. Akan tetapi, Tuhan seperti seorang pemulung yang di tengah kehancuran hidupnya masih bisa melihat hal-hal yang indah di dalam hidupnya. Di tengah penolakan orang lain, Tuhan masih menerimanya. Di tengah rusaknya hidupnya yang dikarenakan ulahnya sendiri, Tuhan masih bisa menemukan hal-hal baik yang masih bisa diperbaiki. Tuhan mengambilnya dan memulihkannya.

Namun, alih-alih berkata seperti rekan saya tersebut, mengapakah kita cenderung memandang Tuhan sebagai seseorang yang berdiri dengan penghakiman dan siap untuk menjatuhkan hukuman? Mengapa kita tidak memandang Tuhan sebagai seseorang yang menanti diri kita dan yang masih tetap percaya kepada kita?

Gideon adalah orang yang kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Tuhan menjamahnya dan Tuhan memperlihatkan bahwa di dalam kuasa dan pekerjaan-Nya, Gideon bisa menjadi pahlawan yang gagah berani. Namun, perhatikan reaksi Gideon. Ia tidak bisa berterima kasih dan tidak bersyukur kepada Tuhan, tetapi terus-menerus bersembunyi di balik kelemahannya. Terus-menerus ia menyalahkan keadaannya. Dengan kata lain, ia tidak mau Tuhan membangkitkan kepercayaan dirinya. Tuhan mengubahkan ia, tetapi Gideon bersembunyi di balik situasinya yang tidak menyenangkan. Ia memilih bersembunyi di balik kondisinya yang memang paling kecil di antara kaumnya. Gideon memilih untuk tetap hidup di dalam kelemahan dan keterbatasannya. Padahal, Tuhan sudah menunjukkan bahwa ada sisi yang indah di dalam hidup seorang Gideon.

Betapa sering di dalam hidup ini kita berlindung di balik kelemahan dan keterbatasan kita. Ketika Tuhan hendak membentuk hidup kita, kita berlindung di balik kelemahan dan keterbatasan kita. Ketika Tuhan ingin menjamah hidup kita, atau hidup orang lain dengan menegur untuk sesuatu maksud yang baik, kita sering berkata, “Ya, memang sudah seperti ini.” Ketika orang bertanya mengapa kita menjalami kehidupan tanpa makna, maka dengan begitu saja kita bebas menyalahkan lingkungan kita dan berkata, “Mau apa lagi?” Jadi, lingkungan asal tempat kita hidup menjadi tempat berlindung yang paling aman dari jamahan Tuhan atas hidup kita.

Dulu semasa kuliah, saya tinggal di kamar asrama bersama dengan dua orang teman selama enam bulan sehingga kami mengenali karakter masing-masing. Salah satu teman sekamar saya adalah seseorang sulit memercayai diri sendiri. Setiap menjelang menghadapi ujian, ia selalu berteriak-teriak dan memukul-mukul kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya adalah orang bodoh dan pasti tidak dapat mengerjakan ujian. Namun, setiap hasil ujian diumumkan, teman ini selalu mendapat nilai yang paling tinggi di antara kami. Hal ini membuat kami kesal dan kami mendorong dia untuk memiliki rasa percaya diri. Kami katakan bahwa ia sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi ia selalu menolak dan berdalih bahwa ia memang sudah dari kecil begitu dan lingkunganlah yang membentuk dirinya seperti itu. Ia tidak mau merubah perilakunya dan sebaliknya ia berlindung di balik perkataan “memang saya dari dulu sudah begini.”

Betapa mudahnya kita berlindung pada kelemahan dan ketidakberdayaan kita. Kita memberikan kesan seolah pintu tertutup bagi Allah untuk memproses diri kita. Kita memberikan terlalu banyak alasan yang inti sebenarnya adalah kita tidak mau Tuhan mengerjakan sesuatu yang indah di dalam hidup kita. Sama seperti Gideon yang berkata, “Lihat, kalau Engkau menyertai kami, tidak mungkin bangsa kami berada dalam kondisi seperti ini. Kalau Tuhan memang menyertai kami, tidak mungkin Tuhan melakukannya melalui diri saya. Saya ini kecil.” Orang yang kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri akan berhenti di satu titik saja meskipun Tuhan sudah bekerja di dalam hidupnya dan menunjukkan bahwa Ia ingin memproses hidupnya.

Ketika Tuhan ingin membangkitkan kita dari keputusasaan melalui proses yang terjadi di dalam hidup kita, kita sering memilih mundur saja. Kita memilih untuk dikuasai ketakutan dan keputusasaan kita. Kita memilih untuk mengeluh mengenai betapa besarnya beban yang ada. Padahal, di dalam kemahatahuan dan kejelian-Nya, Tuhan melihat bahwa sebenarnya ada titik-titik tertentu yang indah di dalam hidup kita yang bisa Ia kerjakan sehingga melahirkan sesuatu yang luar biasa. Proses dari Tuhan akan melahirkan orang yang tangguh dan yang berkemenangan dan yang akan penuh dengan kekuatan. Akan tetapi, syaratnya adalah kita harus membiarkan tangan Tuhan itu masuk di dalam hidup kita dan kalau tangan Tuhan itu masuk ke dalam hidup kita, maka pertama-tama Ia akan membenahi diri kita.

Kadang kala kita memohon agar Tuhan untuk menyelesaikan masalah kita sesuai dengan jalan yang kita pandang benar. Akan tetapi, kalau kita amati, bukanlah demikian cara Tuhan menyelesaikan masalah Gideon. Tuhan menyelesaikan masalah Gideon bukan dengan membuat habis musuh-musuh Gideon, tetapi Tuhan menolong Gideon dengan cara memulihkan kepercayaan diri Gideon terlebih dahulu. Ia memulihkan dulu perasaan Gideon yang merasa bahwa ia ditinggalkan Tuhan. Tuhan memberikan jaminan terlebih dahulu kepada Gideon bahwa Ia besertanya. Cara Tuhan membebaskan kita dari pergumulan dan kehidupan yang menekan adalah dengan bekerja melalui diri kita sendiri yang berada dalam kondisi putus asa. Kita diperbaiki dulu baru kemudian kita bersama-sama dengan Tuhan akan maju menghadapi beban dan pergumulan yang ada.

Jadi, jangan pernah lagi berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk membereskan semuanya. Namun, berdoalah supaya Tuhan menjamah hidup kita atau menguatkan diri kita serta memberi kita kepercayaan dan penyertaan-Nya sehingga kita muncul sebagai orang yang tangguh dan berkemenangan. Cara kerja Tuhan berbeda dengan apa yang kita harapkan. Ia tidak menyingkirkan semua masalah, lalu berkata, “Mari Gideon kita maju.” Kalau memang semuanya, maka untuk apa maju lagi? Akan tetapi, Ia membereskan Gideon dan hatinya terlebih dahulu dan memulihkan dan kepercayaan dirinya. Setelah Gideon dipulihkan kepercayaan dirinya, maka ia bersama dengan Tuhan muncul sebagai orang yang berkemenangan.

Jadi, ketika seseorang putus asa dan letih lesu, Tuhan tidak akan bekerja dengan cara mengubah sesuatu yang di luar dulu, tetapi pertama-tama Tuhan akan berurusan dulu dengan orang tersebut. Kemudian, Tuhan bersama-sama dengan orang ini akan menghadapi seluruh tantangan pergumulan dan kesulitan. Dengan demikian, seperti yang dialami Gideon, sesuatu yang berbeda akan terjadi di dalam hidup orang itu. Mengapa? Karena ia mulai percaya bahwa dirinya tidak dibuang Tuhan. Bahkan, ia mulai merasakan ada Tuhan di dalam hidupnya. Musuhnya tetap sama, bebannya tetap sama besar, kesulitannya tetap masih ada, tetapi yang berbeda adalah diri orang itu sendiri. Seperti Gideon, ia sudah dipulihkan kepercayaan dirinya. Ia sekarang sudah bersama dengan Tuhan sehingga apa pun yang terjadi di luar adalah hal yang akan diselesaikannya bersama dengan Tuhan.

Tidak semua dari kita mau mengakui bahwa diri kita putus asa. Tidak semua dari kita mau mengakui bahwa diri kita berada di dalam pergumulan besar. Namun, apa yang sedang kita alami akan tersirat secara tidak langsung melalui apa yang kita ucapkan, misalnya keluhan-keluhan dan ketidakpuasan-ketidakpuasan kita. Hal ini tampak juga ketika kita kehilangan kepercayaan terhadap orang lain atau kepada diri sendiri.

Dalam keadaan seperti ini, pertama-tama biarkan Tuhan berurusan dengan kita. Berdoalah meminta, bukan supaya Tuhan membereskan semuanya, tetapi supaya Tuhan berurusan dengan kita. Waktu kita bertanya-tanya, “Apa masih bisa, sedangkan orang tidak memercayai saya? Bahkan, saya tidak memercayai diri saya sendiri.” Saya yakin Tuhan bisa. Tuhan ternyata masih percaya kepada kita. Karena itu, jika kita tidak bisa lagi memercayai apa pun: hidup kita gagal, kita dianggap orang yang tidak berguna, kita dianggap orang yang hanya menambahi beban masalah; maka di dalam kondisi seperti itu, mari kita percaya kepada Tuhan. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan akan menemukan hal-hal indah di dalam hidup kita yang akan menjadi pintu masuk bagi tangan-Nya untuk terus bekerja. Karena itu, saya mohon dengan sangat, janganlah kita melakukan upaya bunuh diri kala kita kehilangan kepercayaan kita. Tolong hargai hidup ini karena hidup adalah anugerah Tuhan. Ingatlah bahwa Ia masih bisa melihat hal-hal yang indah, yang mungkin tidak bisa dilihat oleh siapa pun. Percayalah kepada Tuhan karena Ia pun memercayai Anda.

Sumber : wepe.berteologi.net

Categories: Motivasi Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: